Ulasan Film “The Irishman”

Tempo hari aku sempat bilang di akun instagram pribadiku kalau aku akan memberi ulasanku soal film terbaru karya Martin Scorsese. Sejujurnya aku dari awal bilang itu aku agak bingung harus dimulai darimana. Umumnya orang mengharapkan perbandingan dengan beberapa film tertentu dari sutradara yang sama, atau mumpung Martin Scorsese berkomentar sesuatu soal MCU, orang-orang akan berharap ulasan ini memberi sedikit pencerahan buat yang terlalu terbiasa menonton film seperti milik MCU. Awalnya aku menolak untuk menulis mengikuti dua train-of-thought itu. Tapi yasudah, mumpung ini hari libur perayaan Natal, aku putuskan untuk tuliskan saja apa yang menurutku paling menarik dan efektif untuk dibahas. Anggap saja hadiah buat kalian.


Untuk memberi sedikir latar belakang soal film ini, film ini adalah adaptasi dari buku “I Heard You Paint Houses”, sebuah buku non-fiksi yang menceritakan tentang hidup Frank Sheeran, seorang anggota mafia yang mengaku bahwa ia membunuh Jimmy Hoffa (politisi Amerika populer tahun 50an). Istilah ‘paint house’ yang ada di dunia mafia maksudnya adalah seseorang ‘mengecat’ sesuatu dengan satu warna merah: darah korbannya. Sebetulnya, Scorsese sendiri sudah cukup lama mempunyai keinginan untuk membawa buku ini ke layar lebar. Scorsese sendiri baru bisa mengerjakan film ini bersama Robert De Niro, Al Pacino, dan Joe Pesci setelah Netflix memberi restunya kepada Scorsese sekitar dua tahun lalu. Biarpun film ini rilis di Netflix dan mendapatkan penayangan terbatas di beberapa festival film dan bioskop di Amerika, Scorsese meminta para penonton untuk menikmati film ini dengan layar terbesar yang kita miliki. Aku pikir aku bisa setuju dengan Scorsese, dan berikut kenapa aku pikir kalian juga harus menonton film ini (dan kalau memungkinkan, dengan menggunakan layar terbesar yang kalian miliki).


The Irishman adalah film soal kehidupan manusia. Oke, ini mungkin terdengar sangat pretensius (dan mungkin memang pretensius), tapi pernyataan tersebut harus kalian terima sebab film ini membawa kalian menuju kilas balik kehidupan Frank Sheeran (Robert De Niro), lengkap dengan emosi yang ditampilkan oleh seluruh tokoh yang ada dalam cerita tersebut. Jika kita bedah hingga inti terdalamnya, The Irishman adalah film cautionary tale mengenai apa yang terjadi ketika seseorang jatuh ke dalam dunia yang gelap terlalu dalam. Film ini secara sangat indah menggambarkan dikotomi karakter seorang Frank Sheeran dengan akhir yang tragis dan terkesan nihilis. The Irishman mungkin akan terasa lambat bagi kalian yang mengharapkan aksi sana-sini, tapi sejatinya film ini menawarkan klimaks yang dibangun pelan-pelan dan penuh kehati-hatian. Bergerak dari bagaimana Frank Sheeran bertemu dengan Russell Bufalino (Joe Pesci) dan masuk kedalam lingkar sindikat mafia, hingga berakhir dengan upaya pembunuhan Jimmy Hoffa dan bagaimana reaksi Frank dan orang-orang di sekitarnya mengenai itu (bahkan mungkin pembunuhan Jimmy Hoffa hanya berlaku sebagai saklar yang menyalakan kekesalan dan penyesalan Frank Sheeran selama hidupnya). Yang unik di sini adalah bagaimana Frank Sheeran menjalin hubungan cukup dekat dengan Jimmy Hoffa (Al Pacino) dan Russell Bufalino sebagai sahabat karib hanya untuk akhirnya memilih di pindah manakah Frank harus berdiri. Semuanya digambarkan dengan indah oleh dialog naskah dan performa para pelakonnya.

Tentu, sebagai film yang membawa cerita demikian, rasanya tak lengkap bila tidak diisi oleh berbagai makna kias yang brilian soal hidup Frank Sheeran.  Ada beberapa yang aku temui saat pertama kali menonton film ini. Salah satunya adalah saat adegan Frank memaksa dua prajurit musuh menggali kuburnya sendiri saat Frank berada dalam perang di Italia. Frank heran kenapa dua orang prajurit itu tetap menggali kuburnya walaupun mereka tahu mereka akan dibunuh. Menurutku, ini menggambarkan bahwa Frank mulai menggali kuburnya ketika masuk ke dalam lingkar mafia, dan akan terus menggali karena ia tidak punya pilihan lain. Pada satu titik Frank akan dipaksa untuk menggalinya lebih dalam hingga akhirnya dia harus mati. Titik itu adalah, you guessed it, ketika ia secara terpaksa memilih untuk membunuh Jimmy Hoffa. Tentu, karena Frank tidak memiliki pilihan lain. Kemudian adalah bagaimana film ini menggambarkan Peggy Sheeran, anak Frank, sebagai cerminan hati nurani Frank. Shot kamera tatapan Peggy yang seakan-akan menilai dan menghakimi Frank sangat membantu dalam menyampaikan maksud cerminan tadi. Peggy sejak kecil memerhatikan Frank pergi malam-malam untuk melakukan pekerjaan kriminalnya. Ia merasa takut kepada Frank karena itu. Hingga akhirnya Peggy bertemu Jimmy Hoffa, Peggy merasa lebih nyaman jika ada bersamanya ketimbang bersama Russell. Rasanya ini menggambarkan rasa persahabatan Frank dengan Jimmy yang didasari oleh kepercayaan, ketimbang bersama Russell yang didasari dengan pekerjaan kotor atas perintahnya. Sebetulnya ada banyak lagi makna kias yang bisa aku sebutkan di ulasan ini. Dua poin tadi hanya memberi sedikit gambaran umum saja. Menurutku, kalianlah yang harusnya menemukan dan menginterpetasi makna kias tadi. Toh, barangkali pengalaman menontonku dan kalian akan berbeda.


Walaupun film ini sangat pantas mendapatkan banyak pujian, ada beberapa poin dari film ini yang agak menggangguku. Walaupun tidak signifikan, rasanya aku perlu menyampaikan poin-poin tadi. Yang pertama adalah teknologi CGI de-aging yang digunakan film ini. Scorsese bersikeras menggunakan teknologi ini kepada aktornya yang umurnya sudah tua. Ada beberapa adegan di mana efek visual de-aging ini terasa aneh, seperti kulitnya yang terlihat seperti topeng karet a la Mission Impossible, atau ada beberapa titik keriput yang kurang dipoles, dll. Satu hal yang mungkin mengganggu adalah teknologi ini tidak menawarkan perawakan aktornya saat masih muda (Frank Sheeran muda tidak terlihat seperti Travis Bickle di Taxi Driver, padahal estimasi umur dan pemeran dua tokoh tersebut sama). Tapi mungkin Scorsese memaksa menggunakan efek visual tadi supaya kita tetap fokus tanpa perlu banyak berpikir bahwa dua tokoh di masa yang berbeda terlihat sama. Beberapa kali dalam adegan flashback film lain, aku terpaksa agak mikir karena penampilan muka tokohnya sangat berbeda antara masa lalu dan masa kini. Scorsese tidak ingin ada efek ini di dalam filmnya. Apakah ini keputusan bagus atau tidak, itu terserah kalian. Kedua, masih berhubungan dengan keputusan Scorsese menggunakan teknologi de-aging tadi, terutama saat Robert De Niro melakukan adegan beraksi seperti di adegan depan toko kelontong dan saat melakukan penembakan terhadap berbagai tokoh, rasanya seperti melihat bapak-bapak tua umur 80an. Gerakannya kurang gesit untuk umur tokohnya. Sejujurnya, poin ini membuatku menekan tombol pause dan tertawa.

Sudah hampir seribu kata yang aku tulis untuk ulasan ini, rasanya sudah cukup banyak jadi aku akhiri saja dengan pendapat pribadiku soal film ini. Menurutku ada dua jenis film di dunia ini. Pertama adalah film untuk memberikan hiburan. Film jenis ini bisa mengistirahatkan pikiran kita, membuat kita duduk nyaman, dan menikmati film untuk mencari haha-hihi. Menurutku tidak apa-apa, toh kata Jean-Pierre Melville film itu bahwasanya harus menghibur karena film itu adalah sebuah produk industri. Tapi kemudian ada satu jenis film lainnya yang dapat kalian bedah pelan-pelan makna yang tersurat dan tersirat, mencari dan memikirkan emosi yang disampaikan film lewat pelakonnya. Aku tidak ingin gatekeeping kalian-kalian yang suka nonton film dan merasa terasingkan dengan film ini. Aku sangat, sangat berharap kalian meluangkan waktu kalian untuk menonton film seperti The Irishman. Biarpun pada permukaannya film ini penuh dengan musik retro dan orang-orang tua berbicara mengenai hal-hal khas orang tua selama tiga setengah jam, The Irishman adalah film indah dan brilian yang penuh dengan emosi para tokoh di dalamnya.

tl;dr film tiga setengah jam yang bikin rela nahan pipis





Komentar