~In Memoriam of Isao Takahata~
Sering kali hal yang kita bayangkan mengenai Studio Ghibli adalah sesosok sutradara yang bernama Hayao Miyazaki. Karyanya yang dikenal secara universal menjadi sinonim dengan Ghibli: indah, fantastis, sinematik. Spirited Away, My Neighbor Totoro, dan Princess Mononoke menjadi sebagian dari banyak judul luar biasa dari studio animasi yang satu ini.
Namun tak lupa dengan judul judul yang lain. Terutama Grave of the Fireflies, Only Yesterday, dan My Neighbor the Yamadas. Ketiganya juga tak kalah indah dengan kreasi tangan Miyazaki. Berikut saya persembahkan tulisan saya mengenai satu dari banyak maestro Studio Ghibli, Isao Takahata.
Isao Takahata lahir pada 29 Oktober 1935 di Ujiyamada (sekarang Ise), prefektur Mie. Ketertarikannya dengan animasi dimulai saat ia menonton kartun animasi Perancis yang berjudul Le Roi et l'Oiseau. Pengalaman ini membawanya ke dalam dunia animasi yang dimulai dengan lamaran kerjanya di Toei Animation. Dalam waktu inilah ia mulai berteman dengan Hayao Miyazaki. Keduanya nantinya akan membangun sebuah studio animasi besar bersama yang dikenal dengan Studio Ghibli.
Kelima karyanya: Grave of the Fireflies. Only Yesterday, Pom Poko, My Neighbor the Yamadas, dan The Tale of Princess Kaguya memiliki hubungan yang sama yaitu bagaimana ia menghidupkan realita pada kanvas yang bernama animasi. Untuk memahami bagaimana Takahata melakukannya, pertama kita harus paham betul di mana posisi animasi sebagai sebuah medium.
Animasi sebagai sebuah medium, sejatinya, berada di tengah-tengah apa yang kita perhatikan dan apa yang kita rasakan. Hal yang kita perhatikan adalah bagaimana detil yang diperhatikan dan yang diperlihatkan: gerakan, dialog, pemandangan. Itulah hal yang sering kita beri komentar mengenai animasi. Tapi apa yang kita rasakan menjadi hal yang tak kalah penting untuk ditelusuri. Hal yang kita rasakan adalah bagaimana kita sebagai penonton menjelajahi apa yang kita tidak bisa ungkapkan, namun dapat kita semua pahami. Takahata berhasil menggunakan dua hal tersebut secara luar biasa.
Dia tidak pernah melebih-lebihkan sesuatu. Dia hanya mengutarakan hal yang telah ada dan mewujudkannya melalui animasi. Tujuannya adalah “..untuk mengingat kenyataan di dalam gambar, daripada membayangkan bahwa gambar itulah yang nyata.” Pertama mari kita mulai dengan memperhatikan aspek dialog dan gerakan.
Dalam Only Yesterday, ia mencoba menangkap ekspresi dan raut wajah pengisi suaranya secara langsung saat sesi dubbing. Ia ingin menangkap percakapan yang realistis, lengkap dengan jeda pembicaraan dan helaan nafas. Takahata sendiri mengakui bahwa hal ini membantunya dalam mencari konsep desain karakter dari pengisi suaranya. Beliau juga merekam sesi dubbing-nya dan membolehkan animator film tersebut untuk memasukkannya dalam hasil akhir film tersebut. Ini bukan hal baru dalam animasi. Bahkan sampai sekarang cara ini masih digunakan bukan hanya di animasi. Kita bisa melihat bagaimana lekukan rahang muka dan lesung pipi saat seorang karakter sedang berbicara. Topik dialog yang dibawa juga tidak terkesan dilebih-lebihkan. Beliau mencoba menjelajahi emosi karakter serta ekspresi visual sampai ke detil yang belum tentu bisa diatur dalam live-action.
Sama halnya dengan gerakan. Dedikasi Takahata pada gerakan sangatlah luar biasa. Gerakan yang ia gambar sangatlah dipelajari secara sempurna. Gerakan sekecil apapun digambarkan sealami mungkin. Misalnya saat ingin melepas lampu dari lampu belajar maupun menutup jendela mobil. Dalam suatu adegan di The Tales of Princess Kaguya, ia menyempatkan diri untuk memberi enam frame agar gerakannya terlihat lebih nyata. Adegan ini berada saat Kaguya berlari dan berhenti sejenak untuk menunduk kepada orang yang lebih tua. Dalam film yang sama, ia mencoba memperbaiki gerakan memotong buah yang ia rasa kurang sempurna saat dimasukkan dalam Grave of the Fireflies. Menurutnya, adegan memotong semangka di Grave of the Fireflies kurang alami. Takahata meminta para animatornya belajar memotong buah dan memperhatikan cara memotongnya. Penambahan yang sederhana inilah yang membuat gerakan karakter terlihat semakin hidup. Namun tidak hanya sampai situ, ia juga memperhatikan bagaimana tiap karakter memiliki perasaan dan mewujudkannya kedalam animasi.
Bagian yang menarik di sini adalah bagaimana dia membiarkan tiap adegan berjalan secara alamiah. Dalam suatu adegan di The Tale of Princess Kaguya, Kaguya merasa tidak nyaman saat beberapa pria di dekatnya membicarakan mengenai masa depannya. Kaguya ingin lari. Takahata menggambarakan rasa kekesalannya dengan garis-garis kasar yang tak jelas, namun dengan ini perasaannya tergambar sangat nyata dan manusiawi. Dalam Only Yesterday, kita bisa melihat gambar latar belakang yang agak luntur di pinggir saat Taeko meningat masa kecilnya, memberitahu kita fitrahnya ketika kita mengingat detil kenangan. Takahata juga memutuskan untuk menghilangkan secara keseluruhan gambar latar belakang ketika sedang berada dalam adegan aktivitas sehari-hari di My Neighbors the Yamadas, membuat kita fokus pada kehidupan sehari-hari mereka. Ini menandakan ketidakpentingnya memperhatikan detil-detil kehidupan sehari-hari yang semua orang juga tahu.
Namun kadang ia melakukan yang sebaliknya. Dalam Grave of the Fireflies, kita melihat bagaimana Setsuko dan bagaimana ia mencoba kabur dari kenyataan menuju khayalannya. Ia tak membiarkan kita, sebagai penonton, berada dalam kenyataan tersebut, melainkan membiarkan kita memperhatikan dari luar. Memukul dengan kerasnya kenyataan yang tragis. Juga dalam suatu adegan di My Neighbor the Yamadas, saat Pak Yamada menghamipiri geng motor, secara langsung gaya visualnya berubah dari yang tadinya berwujud agak seperti karikatur menjadi lebih realistis. Ini mengakibatkan hilangnya perasaan yang aman dan hangat dari suasana keluarga, dan mendatangkan rasa bahaya yang nyata dari geng motor.
Takahata menggambar story board dan beberapa hal lain, namun ia sering memberikan pekerjaannya yang lain kepada orang lain, dan inilah yang menjadi salah satu dari banyak hal utama dalam menggambarkan hal-hal yang sudah dijelaskan sebelumnya. Dia dapat memperhatikan detil-detil kecil yang menjadikan sebuah momen menjadi terlihat lebih nyata dan membuatnya menjadi apa yang dapat kita rasakan dan apa yang kita lihat.
Akhir kata, jika Hayao Miyazaki dapat membuat fantasi menjadi senyata mungkin, Takahata dapat membuat kenyataan menjadi hal yang lebih mudah kita rasakan dan kita pahami.
Sekian dari saya. Terimakasih telah membaca pengamatan singkat mengenai judul-judul yang dikerjakan oleh sang maestro, Isao Takahata. Jika berkenan, tinggalkan komentar kalian di bawah. Sampai jumpa di kesempatan lainnya.
Referensi:
1. Making of Omohide Poroporo (Dokumenter, 1991)
2. Isao Takahata and His Tales of Princess Kaguya (Dokumenter, 2015)
3. Journey to the Heart - Isao Takahata (Dokumenter, 1998)
Disclaimer: Tulisan ini ditulis sebelum beliau meninggal, juga dimuat di group Facebook "FFF Community"
Komentar
Posting Komentar