[Anime Review] Aura: Maryuuinkouga Saigo no Tatakai - Sebuah Antithesis dari Anime "Penyakit Kelas II SMP"

Hai para teman-teman pembaca sekalian. Kali ini penulis kembali akan mengulas suatu anime yang berjudul "Aura: Maryuuinkouga Saigo no Tatakai". Saya gak bisa bahasa Jepang, jadi tolong terjemahkan sendiri judulnya. Namun yang jelas judulnya terdengar keren. "Pertarungan Terakhir", bung! Terdengar shounen-esque sekali haha
Namun sebenarnya apa yang akan kalian tonton sangatlah berbeda dengan judulnya. Kalian mungkin bingung dengan judul entri blog ini. Kenapa ada kalimat "Sebuah Antithesis dari Anime "Penyakit Kelas II SMP"? Sebelumnya, saya jelaskan dulu bahwa antithesis adalah sebuah ide yang berlawanan atau berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Dari sini kita bisa tahu bahwa anime ini adalah lawannya dari anime yang ada sebelumnya. Lantas anime apa yang menjadi 'thesis'nya?
Sudahi saja dulu basa-basinya. Baca dulu review dan tonton animenya! Nanti kau tahu apa yang saya bicarakan tadi ;)

Selamat membaca!

Informasi Singkat
Tipe: Anime Movie
Genre: Comedy, Drama, Romance, School
Sutradara: Kishi Seiji (Angel Beats!, Ranpo Kitan: Game of Laplace, Devil Survivor 2)
Sreenplay: Kumagami Jun
Storyboard: Taguchi Tomohisa
Desain Karakter: Morita Kazuaki
Komposer: Oshima Michiru


Cerita dan Karakter
Anime yang satu ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama oleh Tanaka Romeo. Aura menceritakan seorang anak bernama Satou Ichirou yang baru akil baligh baru masuk SMA. Ichirou saat SMP terjangkit penyakit chuunibyou di mana dia menganggap dirinya adalah jelmaan ksatria naga yang dikirim ke bumi untuk membasmi kejahatan. Karena itulah dia dibully dan memiliki trauma dengan kelakuan buruknya. Di SMA barunya, dia bertemu seorang gadis bernama Satou Ryouko (kebetulan nama marganya sama) yang terlihat memakai gaun cosplay warna biru seraya membawa sebuah tongkat dan menyebut dirinya adalah seorang 'seorang peneliti Dragon Terminal'. Ichirou teringat trauma lamanya dan berusaha membawanya kembali menjadi normal. Dari sinilah hidup Ichirou berubah.
Gak ada lagu "Pandangan Pertama" ciptaannya A. Rofiq kok
Aura menawarkan cerita roman khas anak SMA dan komedi yang biasa kita jumpai di anime kebanyakan. Si cowo ketemu cewe lalu memiliki hubungan dengannya dan mereka pacaran. Ya udah, itu doang sih. Namun ada satu yang berbeda dan ingin aku bahas di sini.
Ichirou adalah seorang mantan chuunibyou yang ingin menjadi normal. Dia terlihat susah payah ingin memiliki kehidupan normal dengan teman sebayanya. Pergi berjalan-jalan di sudut kota, makan bersama, dan hal-hal riajuu lainnya yang kalian jarang rasakan (haha riajuu meledaklah!). Dia lalu bertemu dengan Ryouko, seorang chuunibyou akut yang tidak memiliki ekspresi yang menonjol, dan hidup Ichirou berubah dari titik itu. Plot pembukanya seperti anime sebelah. Mirip malah. Namun setelah itu benar benar berbeda dengan anime sebelah tadi. Aura memberikan gambaran pasti apa yang terjadi kau bertingkah aneh. Cara bagaimana orang sekitar memberikan reaksi kalau kita bertingkah aneh bisa tergambarkan dengan bagus. Mereka membully-mu, mereka mengisolasimu dan kau benar benar ada di dalam duniamu sendirian, sampai ke efek yang paling parah yang mungkin kalian tahu apa itu. Aura menyajikan sesuatu yang realistis namun dengan bumbu drama roman. Itulah yang berbeda dengan Chuunibyou, di mana di situ digambarkan bahwa menjadi chuunibyou adalah sesuatu yang menyenangkan, unik dan membahagiakan.

Dengan berkembangnya cerita akan makin terasa gelap tema yang dibawanya. Kalian juga serasa naik roler-coaster saat memperhatikan ceritanya. Mulai dari komedi ringan lalu kau di bawa ke adegan yang lebih tegang dan gelap. Pacingnya juga tidak terasa cepat sekali, namun tidak lambat. Dan klimaksnya benar benar terasa. Bisa jadi salah satu anime yang memiliki klimaks terbaik, atau paling engga bagus.
The Hero returns for one last fight.

Art dan Animasi
Jujur saja, tak ada yang spesial dari animasi serta desain karakternya. Biasa saja kalau dibandingkan dengan yang lain seperti karya-karyanya Satoshi Kon, Takehiko Inoue, dsb. Namun yang jadi spotlight di sini bagiku adalah latar belakagnya. Latar belakang yang ada di adegan di atas digambar sangat bagus, tekstur kayunya juga terlihat. Ruang kelasnya juga memiliki detail yang cukup bagus. Namun ada beberapa bagian yang terlihat tidak jelas seperti gambar di bawah nanti.



Detil Ruang Kelas yang cukup bagus
Detil peralatan di belakang tidak terlihat sedetil buku buku di rak kelas
Penggunaan color pallet dan saturasi juga dirasa tepat. Saturasi warna terang untuk adegan yang heartwarming, gelap untuk adegan yang gloomy, dsb. Namun menurut penulis, penggunaan saturasi dan color pallet di Aura masih kalah dengan NagiAsu yang menggunakan saturasi warna biru untuk adegan-adegannya (fyi, biru melambangkan kesedihan). Tapi terlepas dari pernyataanku barusan, pilihan warna di Aura sudah dirasa cukup bagus.

Musik dan Sounding
Musik yang ada di dalam Aura dikerjakan oleh Michiru Oshima, yang juga mengerjakan soundtrack untuk Hal, Sakasama no Patema dan Akagami no Shirayuki-hime. Musik yang digunakan sudah cukup untuk menggambarkan situasi dan cerita di dalamnya. Menggunakan violin sebagai instrumen utama, BGM Aura sudah cukup bagus. Masih tidak se-spesial Kenji Kawai tapi haha (bias lagi). Aura juga tahu kapan untuk diam, untuk bebrapa adegan yang emosional, Aura tidak menggunakan BGM.
Untuk pengisi suaranya sendiri, Ichirou diisi oleh Shimazaki Nobunaga dan Ryouko oleh Hanazawa Kana (yeaay). Mereka berdua telah mengerjakan tugasnya dengan baik. Tangisan Ryouko juga benar benar terasa. Beberapa pengisi suara papan atas juga mengisi di sini. Mulai dari Yukino Satsuka dan Kishou Taniya.

Kesimpulan dan Pendapat Penulis
Aura adalah sebuah anime yang menyajikan cerita yang realistis ditambah dengan bumbu drama roman khas anak anak SMA. Aura memberikan penekanan pada cerita yang cocok bagi kalian yang mencari cerita realistis dan juga mencari roman.
Kenapa aku menyebut Aura sebagai antithesis Chuunibyou? Itu karena penggambaran situasinya yang beda seperti yang telah aku sebut di atas. Selain itu, pesan yang disampaikan kedua anime tersebut sangat kontras perbedaannya.
Kalau Chuunibyou memberi pesan kepada kita supaya jujur terhadap diri sendiri, maka Aura memberi kita pesan supaya kita tidak lari dari kenyataan yang ada serta menjalaninya dengan sepenuh hati.

Segitu dulu ulasan untuk Aura: Maryuuinkouga Saigo no Tatakai. Terimakasih telah meluangkan waktunya untuk membaca ulasan ini. Mohon maaf kalau ada kalimat yang kurang berkenan di hati sekalian.
Kalian punya pendapat lain tentant Aura? Kalian ingin bertanya langsung tentang Aura? Taruh komentar kalian di entri ini!

Terimakasih banyak~

"Eh? Apa? Di AFAID ada yanaginagi?!"

Komentar